Sejarah Stasiun Cirebon

Stasiun Cirebon Kejaksaan pada malam hari
Foto: mssahlan

Stasiun Cirebon di tetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya Berdasarkan SK Menbudpar No:PM. 58/PW.007/MKP/2010. Stasiun Cirebon terletak di Kecamatan Kejaksan, kota Cirebon. Posisi stasiun di Daerah Operasi (DAOP) III Cirebon ini termasuk strategis karena berada tidak jauh dari persimpangan dua jalur yaitu menuju Purwokerto-Kroya dan jalur utara ke arah Semarang. Sebagai stasiun besar, semua kereta api kelas komersial (bisnis-eksekutif) berhenti di stasiun ini. Stasiun Cirebon merupakan tipe stasiun satu sisi, di mana posisi emplasemen sejajar dengan bangunan stasiun.

Sejarah Stasiun Kereta Api Cirebon

Sejak pabrik pengolahan tebu pertama kali didirikan pada 1813 di Tegal, industri gula yang berkembang terus menyebar hingga ke wilayah Cirebon. Sebelum politik Tanam Paksa diterapkan pada 1830, wilayah Cirebon sudah menjadi salah satu sentra perkebunan gula di Jawa. Walaupun kereta api belum diperkenalkan, jalan rel bertenaga hewan ternak sudah dipasang dari pelosok-pelosok perkebunan tebu untuk mengangkut hasil panen menuju pabrik gula. Sampai akhir abad ke-19 di wilayah Cirebon saja sudah lebih dari sepuluh pabrik gula berdiri yang membuka peluang bisnis angkutan gula lewat kereta api.

Meski demikian perusahaan kereta api negara Staatspoorwegen (SS) baru mengembangkan eksploitasi rel kereta apinya di Cirebon pada 1911. Peristiwa itu diawali dengan peletakan batu pertama pembangunan Stasiun Cirebon Kejaksan pada lintas Batavia-Cikampek-Cirebon-Purwokerto-Kroya. Stasiun Cirebon didesain oleh Arsitek Belanda bernama Pieter Adriaan Jacobus Moojen yang diresmikan pada 3 Juni 1912 bersamaan dengan dibukanya lintas Cikampek-Cirebon sejauh 137 kilometer.

Pada zaman kolonial, pelayanan penumpang dan barang masih dalam satu stasiun, tetapi dipisahkan oleh dua loket di bagian kiri khusus penumpang dan sebelah kanan untuk bagasi. Awalnya Stasiun Cirebon tidak melayani tujuan Semarang-Surabaya karena jalurnya tidak tersambung dengan rel milik perusahaan kereta api swasta Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) di Stasiun Cirebon Prujakan. Setelah melalui kesepakatan, rel antara Stasiun Cirebon SS (Kejaksan) dapat terkoneksi dengan Stasiun Cirebon SCS (Prujakan) pada 1 November 1914.

Awalnya Stasiun Cirebon tidak melayani tujuan Semarang-Surabaya karena jalurnya tidak tersambung dengan rel milik perusahaan kereta api swasta Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij(SCS) di Stasiun Cirebon Prujakan. Setelah melalui kesepakatan, rel antara Stasiun Cirebon SS (Kejaksan) dapat terkoneksi dengan Stasiun Cirebon SCS (Prujakan) pada 1 November 1914. Tetapi hubungannya pun hanya antar dua stasiun untuk kepentingan transit penumpang. Semua kereta api SS termasuk kereta api malam “Java Nacht Express” rute Batavia-Surabaya harus berbelok ke arah jurusan Kroya. Sedangkan penumpang yang akan menuju Semarang (lurus) wajib ganti kereta api yang dilayani oleh SCS di Stasiun Cirebon. Selama zaman Revolusi Kemerdekaan 1945-1949, Stasiun Cirebon selalu menjadi tempat transit untuk semua jenis Kereta Luar Biasa (KLB) mulai dari Presiden Soekarno yang memberikan pidato di depan masyarakat, pidato Panglima Besar Jenderal Soedirman, sampai Perdana Menteri Sjahrir untuk menjemput rekannya sebelum meneruskan perjalanan.

Sumber: https://heritage.kai.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengetahui Karakter Asli Sesorang dari Hal-hal Sederhana.

Menikmati Perjalanan Ke Kuningan Jawa Barat

5 Tips Memiliki Rumah dengan Gaji Rendah